Monday, 12 September 2016

Masjid Markazi Jamiah, Si Kubah Biru Penantang Kebisingan Pasar

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit dari kampus International Islamic University Islamabad (IIUI) dengan motor 70 CC, saya dan seorang teman berhasil menembus kemacetan sepanjang jalan, semburan asap hitam dari kenalpot qinqi dan bajai serta kebisingan suara mesin kendaran yang saling  menyalip berusaha berebut setiap jalur kosong.

Kami   menepi di depan sebuah toko. dekat  dua orang polisi lalu lintas berpenampilan sedikit kucel – mungkin akibat terik dan hempasan debu jalan- dengan handtalk ditangan. Seorang dari mereka berusaha menertibkan pengguna jalan yang sok ‘pemilik jalanan’. Ngotot  jalan lebih dulu, memotong jalur, menerobos dari jalur berlawanan hingga menimbulkan kemacatan di perempatan  Raja Bazar Rawalpindi.

Wednesday, 7 September 2016

Menelusuri Jejak Sejarah Masjid Tua di Tepi Waduk.

Iring-iringan bus yang mengangkut rombongan peserta trip mahasiswa semester enam IIUI berhenti di tepi waduk. Khanpur Dam begitu masyarakat menyebutnya. Sekitar  40 km dari ibu kota Islamabad.
Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan pemandangan waduk. Kalau sekedar waduk, di Indonesia jauh lebih banyak. Saya dan seorang teman dari Filipina memilih mencari tempat duduk sembari menyeruput chai. Beberapa saat kemudian salah seorang teman asal Pakistan datang. Ia  mengajak menyeberang waduk. “di seberang sana ada masjid tua” begitu ujarnya.

Tuesday, 30 August 2016

Menanti Senja di Perkampungan Senja Saidpur

Dari jauh Saidpur village mungkin tampak tak ada bedanya dengan perkampungan lainnya di sekitar kota Islamabad. Setelah dekat, barulah terlihat perbaedaan. Untuk mencapai desa, Hanya butuh sekitar 15 menit perjalanan melewati Marghala Road dari masjid Faishal. Kami  berhenti di area parkiran tepi kali. Saat itu pukul tiga sore, hembusan angin dari bukit menembus celah jaket, menusuk tulang. Musim dingin terasa semakin menyayat. Semburat cahaya mereh menerpa kursi-kursi restoran yang telah ditata rapi. Perkampungan merona indah tersorot senja dari ufuk barat, menghamparkan kemilau merah pada dinding rumah kotak yang besusun rapi di kaki bukit. Dua jam lagi pemancar cahaya itu akan berlabuh diperaduannya. 
Perkampungan Saidpur memiliki warna dan corak tersendiri. Ia menghimpun perjalan panjang generasi anak manusia dari zaman ke zaman. Silih berganti pemimpin menguasai wilayah tersebut. Hingga pada akhirnya jatuh ketangan penguasa Mughal. Lalu berubah nama menjadi Saidpur.

Saturday, 11 June 2016

Pernak Pernik Puasa di Negeri Baijan

Selalu ada yang special di bulan Ramadhan. Ini untuk ketiga kalinya saya berpuasa di  negeri para bhaijan. Meskipun puasa di Pakistan, tapi saya memulai bulan Ramadhah sehari lebih cepat dibanding penduduk negeri. sama seperti Indonesia Iya, dua kali puasa selalu begitu. kelewat semangat kali ya? Pakistan selalu terlambat satu hari dibanding Indonesia atau Saudi dan negera mayoritas Islam lainnya.  Alasannya, yah banyak. Nanti kita bahas di tema yang lain. Pokoknya karena saya bla bla..... 

Thursday, 2 June 2016

Uneg-uneg Si Roda Dua




Kalau layar TV Indonesia rame ngiklankan motor metic atau moge, Layar TV Pakistan justru setia dengan iklan motor 70 CC model Jadul 80an indonesia.  Jadi teringat motor butut ayah di rumah. Si jagoan cella intong.  Sempat bertanya-tanya kok masih ramai aja orang yang mau memelihara si jadul kayak gini. Cek percek, Eh.. ternyata, Itulah model terbarunya Pakistan. Adanya, ya begitu.
 
Saya pernah diskusi dengan salah seorang kawan Pakistan terkait model jadul motor di negaranya. Kenapa gak ngiutin India, China Thailand atau Indonesia. Kenapa gak ada model motor bebek atau metic kayak di negara kita. Biar keren gitu? Kata teman, di Pakistan perempuan gak boleh bawa motor. Makanya semua model didesain untuk laki-laki, bebek dan metic itu model untuk perempuan. Bagi masyarakat Indoensia, model motor kami gak keren. Tapi  bagi kami, kalian laki-laki Indonesia gak keren. Laki-laki kok bawanya motor cewek. 

Wednesday, 27 April 2016

Melayu di Lembah Buner Pakistan

Dalam sebuah acara di KBRI Islamabad, salah seorang kawan dari madrasah menceritakan tentang perjalanannya ke sebauh wilayah di barat laut Pakistan. katanya penduduk wilayah itu banyak yang bisa berbahasa Melayu, namanya Buner. Benarkah?. obrolan singkat itu lalu menyisakan rasa penasaran terhadap daerah tersebut.

Hingga suatu ketika, seorang mahasiswa Indonesia mengajak saya  menghadiri pesta  penikahan temannya yang tinggal di Buner. gayung bersambut, tanpa pikir panjang saya lagsung mengiyakan tawaran teman.

Langkah pertama yang kami lakukan setelah sepakat melakukan perjalanan ke Buner adalah menyampaikan niat perjalanan kami asisten Atase Pertahanan saat itu. Bagaimanapun wilayah itu masih termasuk wilayah rawan konflik. Maka pertimbangan dan nasehat beliau tentu sangat penting bagi kami. Beliau mengizinkan kami berangkat dengan pesan agar lebih berhati-hati.

Wednesday, 20 April 2016

International Restaurant ala Bhaijan

Bagi traveler Muslim, bila ke berkunjung ke negeri Ali Jinnah tidak perlu terlalu khawatir dengan kehalalan makanan.Sebab  Pakistan termasuk negara yang mayoritas atau sekitar 98% penduduknya muslim. maka buat penikmat kuliner halal, Pakistan tentu memanjakan anda untuk sisi ini.

Tapi pertanyaannya apakah lidah anda cocok dengan menu baijhan? Soalnya makanan negeri ini serba berminyak. Menu makanan Pakistan yang paling banyak dikenal di negara lain ialah nasi briyani dan paratha.  orang Malaysia menyebutnya roti chana.

Anda pun bisa menikmati gorengan ala pakistan seperti Samosa dan Pakora. Masyarakat Pakistan lebih suka mengkonsumsi gandum dari pada nasi. Makanya, roti lebih mudah ditemukan dari pada nasi. Kalaupun ada nasi ya gitu-gitu deh, gak sennyuaaam masakan Indonesia. Paling Briyani. Selebihnya roti dan daging. Daging di Pakistan termasuk menu yang mudah didapat dengan harga yang relatif lebih murah. Adapun sayur-sayuran hanya sebagian kecil masyarakat Pakistan yang suka. Dan pastinya, minuman  Chai menjadi menu yang tak pernah alfa di setiap warung.